Rabu, 02 Januari 2013

Hasil Uji LIPI tentang Minyak Ikan Pure Fish Oil (PFO)



Pengaruh Pemberikan Minyak Ikan Pure Fish Oil (PFO)  Terhadap Sintesis Kolesterol Pada Tikus

Rantai panjang asam lemak  tak jenuh jamak omega-3 (n-3 PUFA) eikosapentaenoat (EPA,20:5n-3) dan dokosaheksaenoat (DHA, 22:6n-3) diperoleh utamanya dari mengkonsumsi ikan laut. Hasil penelitian laboratorium dan klinis menunjukkan bahwa n-3 PUFA bermanfaat sebagai anti-inflammatori, anti-aritmik, anti-kanker (1), mempunyai efek menurunkan kadar lemak dan kardioprotektif (2).

The American Heart Association (AHA) merekomendasikan seseorang yang mempunyai penyakit arteri koroner perlu mengkonsumsi 1 gram minyak ikan setiap hari karena pengamatan klinis memperlihatkan keuntungan minyak ikan mengurangi faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskuler (3).

Minyak ikan Pure Fish Oil (PFO) (nama sebelumnya Pure Deep Ocean, PDO) diekstraksi dari ikan laut yang dalam mengandung rantai panjang omega-3 PUFA, utamanya EPA dan DHA, dan PUFA lainya seperti omega-6, omega-7 dan omega-9 (Tabel 1).
Secara empirik minyak ikan Pure Fish Oil (PFO)  telah dipergunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit dan banyak orang yang menjadi saksi manfaat mengkonsumsi kapsul minyak ikan Pure Fish Oil (PFO) (nama sebelumnya Pure Deep Ocean, PDO)

Pengujian :

Menguji hipotesa bahwa pemberian minyak ikan
Pure Fish Oil (PFO) (nama sebelumnya Pure Deep Ocean, PDO)  pada tikus yang dikondisikan hiperlipidemia selama 8 hari dengan dosis setara dengan 1 kali dan 2 kali dosis manusia akan efektif mengurangi kadar kolesterol, LDL, HDL dan trigliserida dalam darah.

Metode :

Sebanyak 12 ekor tikus jantan jenis Sparagoe Dowley (SD) berumur 10 minggu digunakan pada penelitian ini. Tikus diaklimatisasi seminggu pada lingkungan yang baru dengan pemberian pakan standar.
Kemudian tikus dikelompokkan secara acak menjadi 4 kelompok.  Kontrol, minyak ikan komersial 0.08ml/200g BB), PDO1 (0.8ml/200g BB ~3x1 sendok makan dosis manusia) dan PDO2 (1.6ml/200g BB~3x2 sendok makan dosis manusia).

Setelah diberi pakan konvensional, tiga kelompok diberi pakan khusus untuk meningkatkan kadar kolesterol dan diikuti dengan pemberian minyak ikan komersial dan
Pure Fish Oil (PFO) (nama sebelumnya Pure Deep Ocean, PDO)  sesuai dengan dosisnya.

Kolesterol total, LDL, HDL dan trigliserida diukur setelah pemberian pakan khusus selama 1 minggu (hari ke-0) dan 8 hari setelah pemberian minyak ikan komersial dan
Pure Fish Oil (PFO) (nama sebelumnya Pure Deep Ocean, PDO)  (hari ke-8).

HASIL

Analisis asam lemak mengindikasikan kandungan Omega-3 yang signifikan dalam minyak ikan
Pure Fish Oil (PFO) (nama sebelumnya Pure Deep Ocean, PDO)

Tabel 1. Komposisi asam lemak dalam minyak ikan Pure Deep Ocean (PDO)  


 





















Kontrol memperlihatkan efek tidak berbeda nyata diantara parameter utama yang diuji

Tabel 2. Kontrol



 





Setelah 8 hari perlakuan, minyak ikan komersial memperlihatkan efek tidak beda nyata diantara parameter utama pengujian.

Tabel 3. Efek minyak ikan komersial (0.08ml/200g rata-rata berat badan) terhadap kadar lipida



 




PDO1 memperlihatkan efek pengurangan yang nyata pada kolesterol total dan LDL, tetapi tidak nyata pada kadar HDL dan trigliserida

Tabel 4. Efek PDO1 (0.8ml/200g rata-rata berat badan) terhadap kadar lipida



 




PDO2 memperlihatkan efek pengurangan yang nyata pada kolesterol total, LDL dan trigliserida, tetapi tidak nyata pada kadar HDL

Tabel 5. Efek PDO2 (1.6ml/200g rata-rata berat badan) terhadap kadar lipida




 



Kesimpulan

Pemberian minyak ikan
Pure Fish Oil (PFO) (nama sebelumnya Pure Deep Ocean, PDO)  dalam waktu yang singkat dan dengan dosis yang direkomendasikan mampu secara efektif menurunkan resiko ikan komersial. PDO2 dapat menurunkan hiperlipidemia dibandingkan dengan minyak kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL lebih baik dibandingkan minyak ikan komersial.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui efek protektif hiperlipidemia pada pemakaian minyak ikan Pure Deep Ocean (PDO) untuk  jangka waktu lama sebelum  dilakukan pengujian  klinis. (*)

-------------------------------------------------------------------------------
Dipresentasikan pada 10th ASEAN Food Conference 2007
The premier Food Science and Technology Conference in ASEAN
21-23 Agustus 2007, Kuala Lumpur, Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar